Capres dan Politik Taman Anak-Anak

JUANDA – Sambil menunggu antri cuci mobil aku membaca media online kesukaanku yaitu detik dan kaskus. Ada beberapa hal yang aku pikir beberapa hari ini, yaitu saling melemahkan sesama capres kecuali Jokowi dan Surya Paloh.

Kenapa aku menyebut kecuali bukan Jokowi dan Surya Paloh? Karena aku melihat dari 2 tokoh ini belum pernah mengeluarkan statement untuk calon presiden lain. Tapi selain mereka berdua bahkan sudah terang-terangan atau dengan malu-malu pakai sajak dan pantun.

Aku melihat tokoh politik kita memang masih seperti taman kanak-kanak alias TK, kenapa saya menyebutnya seperti itu karena dalam kampanye yang disampaikan bukan program kedepan akan seperti apa tapi malah menjelek-jelekan lawan politiknya. Ada yang menyebut kalau presidennya si A maka akan gini-gini, aku membaca dan mendengarkan sambil tersenyum. Ada analisis kenapa beberapa tokoh besar selalu menyerang salah satu calon presiden? Karena memang kalah dalam elektabilitas. Aneh ya. Tapi itulah yang ku sebut Taman Kanak-Kanak.

Beberapa waktu yang lalu aku sempat menulis di Group WA angkatan kuliahku. Dimana aku menuliskan siapapun capresnya pasti akan mendapat kecaman atau kampanye nagatif dari capres lainnya. Misal Prabowo pasti akan mendapat serangan terkait HAM 1998. ARB akan mandapat serangan terkait lumpur lapindo. Jokowi terkait melanggar sumpah jabatan ketika dilantik, menjadi boneka dll. Intinya apa? Semua politikus kita tidak ada yang dewasa. Partai Islampun yang kental dengan dakwahnya tak hentinya kampanye dengan kampanye hitam. Hadeh …

Intinya apa? Tidak ada capres yang ideal dan Perubahan harus dilakukan. Koalisi pemerintahan masa lalu telah menjadi gambaran bahwa beberapa partai memang tidak layak membawa amanah dengan korupsinya.

Semoga Indonesia menjadi lebih baik dan TK itu agar segera menjadi Sarjana sehingga menjadi lebih santun. Amin.