Adakah Yang Bisa Membantuku Menemukan Jawaban?

Pertanyaan ini muncul dari dalam hatiku beberapa hari yang lalu, yaitu mengenai hukum nepotisme dari sudut agama setelah nepotisme dilakukan. Ceritanya singkat seperti ini.

Eliza adalah lulusan sarjana dari Universitas yang terkenal, dengan IPK 3.30. Dia adalah anak seorang pimpinan Bank XX di Indonesia yang sangat terkenal dan predikat Bank-nya sangat baik. Pada pertengahan tahun 2004 Bank XX melakukan rekruitmen pegawai baru. Karena Eliza anak seorang pimpinan maka pimpinan tersebut melakukan negosiasi dengan panitia penerimaan agar si anaknya (Eliza dengan no ujian : BA43256) diterima di Bank tersebut apapun nilai ujiannya dan akhirnya Eliza-pun menjadi pegawai Bank XX dengan gaji Rp. 4.503.000,-.

Hari demi hari Eliza bekerja dengan seperti layaknya teman-teman barunya, pergi pagi pulang sore hari atau bahkan malam hari. Bulan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya Eliza menerima gaji yang dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti shoping, traveling, dll.

Pada saat habis lebaran Eliza dan teman-teman melakukan reuni angkatan, dimana mereka yang diundang adalah teman-teman satu angkatan di klas III dulu ketika masih SMU. Reuni dilaksanakan di Aula SMU yang telah tertata rapi, singkat kata acara berjalan lancar tanpa hambatan sekalipun, kecuali ketika Eliza bertemu dengan Rony yang dulu pernah mengisi hati Eliza sampai dengan kuliah semester III.

Sesampai di rumah Eliza merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan sprai berwarna putih sambil membayangkan teman-temannya yang sampai dengan saat ini belum mendapatkan kerja, latas teringat masa lalu ketika Eliza mendaftar di Bank XX yang dilakukan penuh trik dari Ayahnya. Kemudian muncul pertanyaan “Halalkah harta yang aku dapatkan selama ini, padahal proses yang aku lalui penuh dengan nuansa nepotisme?”.

Buat teman-teman yang bisa membantu menjawab silahkan tulis melalui komentar yang ada dibawah artikel ini.