Nilai Hidup…(judul yang kesannya berat, padahal…)

Kalo baca istilah ‘nilai hidup’ pasti banyak yang berfikir, ‘wah, berat banget yah, emangnya gak ada topik lain yah?’. Iya yah, padahal kita kan bukan kuli panggul yang suka angkat yang berat-berat.hehehe.

Setiap kita dari kecil, sampe sekarang bisa bikin anak kecil, tentunya secara gak sadar bahwa apa yang kita tampilkan sekarang, baik itu sikap, pola pikir, maupun perilaku semua hasil dari diri kita yang mengolah semua hal yang berasal dari luar diri kita. Dan itu secara gak sadar jadi nilai atau prinsip hidup kita.

Misalnya aja, anak punk, dia akan punya nilai hidup anak punk yang ditampilkan dalam gaya rambut mohawk dan boot tinggi dan prinsip hidup bebas ‘seenake dewe’. Atau anak masjid dengan gaya pakaian muslim yang selalu menundukkan pandangan ketika berjalan, merupakan ciri umum yang ditampilkan. Yah, itulah cerminan nilai hidup yang dianut seseorang. Bahkan yang lebih ekstrim, seorang waria yang memilih nilai hidup seorang waria menampilkan dirinya dengan gaya waria.

Menurut teorinya, nilai individu itu ada 5, nilai ekonomi, politik, sosial, religi, dan seni. Orang yang nilai ekonominya tinggi, dia cenderung mencari materi sebagai jalan hidupnya. Kalo politik lebih pada menguasai orang lain. Sosial tentang gimana menjaga hubungan sama orang lain dan bersosialisasi. Religi mengutamakan unsur ke-Tuhanan. Seni mengedepankan unsur keindahan dan estetika.

Sebenernya, semua orang punya nilai itu, hanya saja yang ditampilkan adalah nilai yang dominan dalam diri. Sah-sah aja kalo ada orang yang nilai dominannya lebih dari satu.

Nilai yang ada itu sifatnya subjektif banget di setiap orang. Enggak bisa ada satu nilai yang pas dipakai di semua orang. Dan kita gak bisa paksakan satu nilai ke orang lain. Misalnya aja, orang yang punya nilai hidupnya adalah seni, dia memilih hidup sebagai artis. Kalo dilihat secara religi, bisa jadi ada pertentangan, antara nilai religi dan seni. Karena masing-masing pake standar yang berbeda. Sampe zaman kuda gigit besi, enggak akan ketemu. Kecuali salah satu pihak mengalah, dan itu kembali ke diri masing-masing.

Trus gimana kalo menghadapi nilai yang beda?
Sebenernya, apa yang menjadi nilai dalam diri kita adalah pilihan hidup kita. Apakah kita memilih menjadi seseorang yang matrialistis, politis, religius, sosialis, ataupun artis. Ketika ada beda nilai, pahami bahwa nilai kita emang beda. Kalo pun nantinya ada orang yang berubah nilainya dari yang awalnya cenderung sosial ke religi, itu sah-sah aja. Karena itu dipahami sebagai proses hidupnya dia. Intinya kenyamanan diri.Kalo seseorang nyaman sama nilai yang dianut, maka itu nilai dia. Kalo pun dia berubah nilai, artinya dia nyaman dengan perubahan itu. Masalahnya, yang tahu nyaman enggaknya diri kita sendiri.

So, silakan refleksi, sudahkah nyaman sama nilai hidup kita? Kalo masih mencari, selamat mencari!

heni mulyati

avatar
  Subscribe  
Notify of