Your Name is Lisna or Lina

Yogyakarta – “Halloo…” suara lembut terdengar di hp Fren-ku, waktu itu pukul 00.00 WIB aku lupa harinya, itulah suara Lisna atau Lina ketika menelponku disuatu tengah malam diakhir bulan puasa, kemudian dilanjutkan dengan ucapan salam dan terus menanyakan kabar “Apa kabar Sofie, bagaimana keadaanmu?…..”. Tadi siang jam 14.00 aku janjian untuk main ke rumah Lisna di Srandaan Bantul, sekitar 10+15+5 = + 30 Km dari Kota Yogyakarta kearah Selatan, dari Jombor butuh sekitar 1 jam perjalanan untuk sampai Srandaan dengan menggunakan sepada motor.

Sampai di jembatan Kali Progo yang ada di Srandaan aku coba untuk SMS Lisna karena aku tidak tahu persis rumah Lisna berada. Sekitar 15 menit aku menunggu masuk SMS yang isinya bahwa Lisna akan segera menemuiku, dan selang beberapa menit memang Lisna datang dengan sepeda motor Honda Supra Fit.

Akhirnya sampai juga di rumah Lisna yang berada di pinggir pantai Srandaan yang cukup tenang, suara ombak, pohon kelapa dan angin, cukup kuat bagiku untuk menebak kalau rumah Lisna ada di pinggir pantai dan setelah aku cross check ternayata benar dan lampu-lampu pinggir pantai kelihatan dari jalan menuju rumah Lisna.

Setelah dipersilahkan duduk di emperan dengan suguhan kue lebaran dan minuman, aku dan Lisna mulai cerita banyak tentang masalah masing-masing. Lisna banyak cerita tentang HRD (cowok yang selama ini membuat Lisna pusing), sementara aku banyak juga cerita tentang masalahku (yang membuat aku menjadi 1/2 gila).

Siapakan Lisna?

Lisna adalah teman yang aku kenal sekitar 1.5 tahun lalu via YM, saat itu aku masih aktif di CERDAS (Centre for Research and Data Analys) yang aku dirikan bersama Nawari, sempat terjadi komunikasi via YM karena Lisna mengalami kesulitan dalam melakukan analisis skripsinya, waktu itu CERDAS tidak bisa membantu banyak karena kesibukanku dan Nawari, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba Lisna sudah lulus dan bekerja di salah satu perusahaan asing di Kerawang, pada saat yang bersamaan aku juga keterima di Perum Perhutani Unit II Jawa Timur.

Biasanya aku dan Lisna jarang sekali telpon, tapi setelah aku mendapat masalah yang cukup serius aku banyak minta pertimbangan Lisna, walau aku tahu waktu itu Lisna juga mengalami masalah yang relatif sama dengan aku. Curhatku sama Lisna hampir aku lakukan disetiap malam pada akhir bulan puasa, karena dengan curhat tersebut aku merasa beban yang aku tanggung menjadi berkurang, walau aku sadar berkurangnya tersebut bersifat temporary (sesaat).

Hanya sedikit komentarku tentang Lisna/Lina : have eagle eyes, nervous, dan ….. masih banyak lagi. Cepat selesai masalahnya ya Lis, moga Januari 2008 menjadi kenyataan dalam hidupmu.