Sosok Putri Politisi Masa Lalu “Benazir Bhutto”

20071018115705bb_khi203.jpgMantan perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto tiba di tanah airnya dan mendapat sambutan meriah setelah hampir 10 tahun mengasingkan diri.

Pesawatnya mendarat di bandara Karachi yang dipenuhi para pendukungnya. Bhutto berharap akan memimpin partainya, Partai Rakyat Pakistan dalam pemilu mendatang.

Dia mendapat kekebalan hukum dari dakwaan korupsi yang terjadi semasa dia berkuasa sebagai perdana menteri di tahun 1980-an dan 1990-an.

Benazir Bhutto berasal dari dinasti politik yang sangat berpengaruh, ayahnya Zulfikar Ali Bhutto adalah perdana menteri Pakistan tahun 1970-an.

Dia belakangan digulingkan oleh satu kudeta militer dan kemudian dieksekusi.

Nona Bhutto sendiri pernah dipenjara. Setelah dibebaskan, dia berkampanye dari luar negeri menentang penguasa militer yang baru, Jenderal Zia Ul Haq.

Kemudian pada tahun 1986, dia kembali ke Pakistan dan menarik kerumunan massa untuk berdemonstrasi.

Reputasi rusak

Dua tahun kemudian, dan setelah Jenderal Zia meninggal, dia terpilih sebagai perdana menteri untuk pertama kalinya, menjabat hingga masa jabatan kedua di pertengah tahun 90-an.

Pada awalnya, Benazir Bhutto sangat populer dan dilihat sebagai tokoh yang wah dan ini sangat berbeda dengan pemerintahan militer.

Tetapi kedua masa jabatannya sebagai Perdana Menteri berakhir dengan pemecatannya atas dakwaan korupsi.

Bhutto mengatakan dakwaan itu bermotivasi politik.

Tetapi dia meninggalkan kantor Perdana Menteri dengan reputasi yang hancur.

Pada tahun 1999 dia memutuskan mengasingkan diri ke luar negeri, tak lama setelah Jenderal Musharraf merebut kekuasaan lewat satu kudeta.

Dia mengatakan, dia sekarang pulang ke tanah air untuk membantu peralihan Pakistan ke pemerintahan sipil.

Menjelang kepulangannya, beredar spekulasi bahwa Bhutto akan menandatangai kesepakatan pembagian kekuasaan dengan Musharraf, perjanjian yang akan memperbolehkan Bhutto mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri untuk ketiga kalinya.

Tetapi beberapa kalangan melihat kesepakatan ini sebagai pengkhianatan karena membantu Jenderal Musharraf yang sedang terpojok untuk bisa tetap berkuasa.

Sumber : BBC INDONESIA