Jangan Andalkan Bunderan Waru Untuk Pintu Keluar Surabaya

Yogyakarta – Setelah 1.5 tahun aku tinggal di Surabaya yang paling menjengkelkan adalah MACET, Jalan A. Yani dan Bunderan Waru adalah sumber kemacetan bagi Surabaya, setiap kali temanku kerja datang terlambar pasti alasannya lagi macet di Jl. A. Yani atau Bunderan Waru. Aku melihat Surabaya dengan kota sebesar itu, jumlah penduduk sepadat itu, jumlah kendaraan pribadi sebayak itu juga dan sebagian besar (menurutku sih) pekerja di Surabaya adalah pendatang dari Madura, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Malang dan kota-kota disekitar Surabaya kalau hanya mengandalkan Bunderan Waru sebagai satu-satunya pintu keluar Surabaya maka sampai kapanpun kemacetan di Surabaya tetap aja ada, terutama pada saat liburan hari libur nasional.

Bayangkan Bunderan Waru sekarang menjadi satu-satunya pintu (gate) masuk – keluar surabaya, dari arah Malang – Sidoarjo akan melewati Bunderan Waru, dari arah Mojokerto juga akan melewati Bunderan Waru, wah rupanya Bunderan Waru bener-bener menjadi satu-satunya pintu masuk-keluar Surabaya, meskipun masih ada pintu keluar-masuk selain Bunderan Waru, tapi statusnya masih jalan alternatif yang tidak semua orang tahu.

Pembangunan tol menuju Bandara Juanda juga tidak begitu banyak menyelesaikan masalah kemacetan di Surabaya, menurutku untuk mengatasi kemacetan di Surabaya adalah :

  1. Jangan andalkan Bunderan Waru sebagai satu-satunya gate masuk-keluar Surabaya, karena terbukti setiap kali menghadapi hari libur nasional Jl. A. Yani dan Bunderan Waru selalu macet; solusinya ya buatkan jalan keluar selain Bunderan Waru, mungkin butuh minimal 3 jalan keluar-masuk Surabaya agar konsentrasi kendaraan tidak tertumpuk di Bunderan Waru.
  2. Menyediakan angkutan umum yang murah, nyaman, dan tepat waktu; ini akan sangat membantu mengurangi jumlah kendaraan di Surabaya, tapi sampai dengan saat ini boleh aku bilang kendaraan umum yang murah, nyaman dan tepat waktu di Surabaya belum ada, mungkin ide Bus Way di Jakarta perlu di modifikasi sistemnya untuk diterapkan di Surabaya.
  3. Menaikkan pajak kendaraan; seandainya pajak kendaraan di Indonesia dinaikkan, mungkin jumlah kendaraan di Indonesia akan berkurang dengan sendirinya – ya seleksi alam lah, tapi sayang pajak kendaraan di Indonesia dapat digolongkan sangat murah.
  4. Kurangi subsidi BBM; mungkin subsidi BBM untuk kendaraan umum masih bisa diterima, tapi subsidi untuk kendaraan pribadi harus diperhitungkan, beberapa waktu yang lalu aku baca di koran bahwa sistem ini akan diterapkan di Jabotabek, tapi kira-kira seefektif apa ya..? kayaknya perlu di bahas lebih lanjut agar pengurangan subsidi BBM untuk kendaraan pribadi dapat berjalan dengan baik.

Sebenarnya solusi ideal untuk mengurangi kemacetan adalah mengurangi jumlah kendaraan, tapi sayang kebijakan pemerintah belum ada tentang pengurangan jumlah kendaraan, seandainya ini bisa dilaksanakan mungkin sangat baik, tapi semua masih butuh proses; intinya Surabaya masih harus banyak belajar untuk mengatasi kemacetan.