Banjir dan Hutan ?

Yogyakarta – Saat ini telah terjadi banjir dimana-mana, bahkan kota-kota seperti Solo, Sragen, Ngawi, Bojonegoro, Purwodadi, Trenggalek, juga tak luput dari genangan air akibat luapan air. Apa sih sebenarnya yang menyebabkan banjir? Ketika aku pulang ke Surabaya menggunakan kereta api Sancaka Sore ada orang yang bilang banjir terjadi karena hutan ditebangi, apa benar banjir karena hutan yang ditebangi/dijarah? Mari dilihat penjelasan singkatku ini.

Pahami apa itu Daerah Aliran Sungai (DAS) ?

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu bentang lahan yang dibatasi oleh pembatas topografi (topography divide) yang menangkap, menampung dan mengalirkan air hujan ke suatu titik patusan (outlet) menuju ke laut atau danau.

Jadi dalam memahami banjir, maka harus dipahami dulu DAS itu seperti apa? bagaimana pengelolaan DAS yang ada, cukup optimalkah? bagaimana penataan tata ruang suatu kawasan, sudah baikkah? bagaimana pengelolaan hutannya baik yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah (BUMN) atau swasta, sudah baikkah? Karena pengelolaan DAS itu harus mengakomodasi semua staekholder yang ada, oleh sebab itu alasan mengapa pengelolaan DAS, atau pengelolaan hutan tidak bisa diotonomikan? agar pengelolaan antara daerah hulu dan hilir pada suatu DAS sinergi, kalau pengelolaan DAS atau pengelolaan hutan diotonomikan maka akan sangat sulit melakukan sinergi antara daerah hulu dan hilir, ini terkait dengan PAD, pemerintah daerah akan berlomba-lomba melakukan pengelolaan hutan tanpa harus memikirkan fungsi lingkungan dan daerah hilir yang ada.

Mengapa hutan rusak, kok sering banjir atau tanah longsor?

Pahami dulu pengertian hutan berikut ini.

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya yang dapat memberikan perbedaan ikim mikro antara yang ada diluar hutan dengan yang ada didalam hutan

Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa hutan selalu didominasi oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Lantas apa fungsi pepohonan dan tumbuhan lainnya dalam mengendalikan banjir atau tanah longsor? Banjir merupakan luapan air yang terjadi akibat DAS/SUBDAS tidak dapat meneruskan dan atau menahan air yang berasal dari hujan ke dalam tanah dengan baik, jadi air tidak dapat tertahan didalam tanah, kalau curah hujan (CH) rendah mungkin tidak masalah, tapi kalau CH intensitasnya tinggi baru akan menjadi masalah. Lantas siapa yang mampu meneruskan dan atau menahan air? jawabannya adalah kumpulan pepohonan, dan seresah (liter).

Bagaimana pohon bisa menahan air? Pohon memiliki akar dan tajuk, jika terjadi hutan dengan CH yang tinggi, maka butiran-butiran air hujan akan tertahan beberapa waktu di tajuk, dan akan turun kebawah melalui batang pohon (steam flow) dan sebagian akan masuk kedalam tanah melalui lubang akar dan sebagian lagi akan tertahan/diserap oleh seresah (liter) yang berfungsi mirip dengan spon, jadi menurut teori seresah (liter) dapat menyerap air sampai dengan 3 kali lipat beratnya, bayangkan jika dalam 1 ha hutan jati umur 10 tahun terdapat 800 pohon dan 1 pohon dapat menghasilkan seresah (liter) 2 kg saja, maka hutan dengan luas 1 ha tersebut mampu menahan air sebanyak 2 kg x 3 x 800 ph = 4.800 kg air ~ 4.800 liter, lumayan bukan, ini hanya yang berasal dari seresah, belum yang masuk kedalam tanah berapa ribu liter air? dan belum lagi yang diuapkan kembali melalui evapotranspirasi, evaporasi, dll dan bayangkan jika hutan 1 ha tanpa pohon alias gundul berapa ribu liter air akan dikirim ke outlet Sub DAS atau DAS, ini yang menyebabkan banjir.

Pada UU No. 41 tahun 1999 juga disebutkan bahwa luas hutan minimum adalah 30 % dari luas kepulauan, walaupun angka 30 % tersebut juga merupakan angka misteri karena sampai sekarang belum tahu angka itu asalnya dari mana? tapi bagaimana dengan hutan di Jawa? kalau tidak salah hutan di Jawa saat ini kurang dari 30 % persisnya antara 20-28 %, bayangkan? Kalau memang ditinjau dari segi UU hutan di Jawa sudah tidak sesuai dengan luasan standar yang dipersyaratkan lagi. Disamping itu kerusakan hutan di Jawa akibat penjarahan yang terjadi pasca reformasi juga mengakibat tanak kosong (TK) mencapai ratusan ribu hektar (+/- 400.000 – 500.000 ha) bayangkan? Begitu mencengangkan memang kerusakan hutan di Jawa ini yang merupakan barometer pengelolaan hutan di Indonesia.

Jadi sangat wajar jika pada musim penghujan (wet session) Jawa selalu dihantui oleh rasa takut akan banjir dan tanah longsor, karena memang hutan yang ada di Pulau Jawa saat ini sedang merintih akibat ulah dari manusia. Siapa yang salah?

Aku punya prediksi, jika GERHAN dan project reboisasi di Jawa dapat berjalan dengan lancar dalam arti jumlah tegakan sampai dengan klas umur (KU) I dan II dapat dipertahankan sesuai dengan standar jumlah pohon pada klas perusahaan (KP) tertentu maka dalam waktu 5-10 tahun lagi bencana banjir di Jawa dapat dikurangi, mencengangkan bukan? Ya memang seperti itulah kenyataannya.

Save Java Forest sudah layaknya menjadi program dari semua pemerintahan daerah, Departemen Kehutanan, Perum Perhutani dan masyarakat, baik masyarakat sekitar hutan maupun masyarakat Indonesia pada umumnya, mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini, pasti bencana tidak akan datang lagi.