Tahun Baru 2008 di Surabaya

Surabaya – Sebenarnya aku ingin menulis tentang tahun baru di Surabaya yang selalu disebut-sebut sebagai kota pahlawan ini dari kemarin, berhubung kondisi kesehatanku belum begitu membaik akibat terkena radang tenggorokan sejak tanggal 31 Desember 2007 pagi, akhirnya aku baru sempet nulis sekarang. Waktu itu sebenarnya aku tidak punya niat untuk tahun baru di Surabaya, niatku sih aku tahun baru di Jogja bersama teman-teman di LKPK, ya seperti biasalah kalau liburan aku selalu kumpul-kumpul dengan teman-teman LKPK yang sebenarnya mereka adalah teman-temanku kuliah dulu dan aktif di Sylva Indonesia.

Aku berangkat dari Jogja tanggal 31 Desember 2007 jam 16.00 menggunakan kereta api Sancaka Sore dan sampai di Surabaya Gubeng jam 10.30 malam, waktu itu aku keluar melalui Stasiun Gubeng Baru langsung pesan taxi untuk menuju kos-ku, biasanya taxi yang aku pilih adalah Blue Bird Groups, tapi karena sangat sedikit taxi yang terlihat akhirnya aku naik taksi sembarang, dari tawar menawar harga akhirnya terjadi kesepakatan sampai dengan di kos-ku Rp. 20.000,- (kalau pakai argo Rp. 15.000,-) pikirku Cuma selisih 5000 perak ya aku setujui saja, tapi perjalanan tidak bisa lewat Delta Plaza mas, karena macet kata Pak Sopir ke aku, dan perjalanan dialihkan melalui jalan dibawah jembatan layang (fly over) menuju kearah Gereje deket Pacar Keling itu (aku gak tahu jalan apa itu), pas di depan Gereja perjalanan bener-bener macet total, kemudian kereta api Mutiara Timur jurusan Surabaya – Banyuwangi pas melintasi rel, wah bisa dibayangkan macetnya seperti apa, untuk melintasi rel kereta api itu butuh waktu sekitar 20 menitan :D.

Sampai di perempatan (gak tahu juga namanya apa, kalau belok kanan menuju THR) taxi dialihkan ke kiri, padahal tujuanku adalah lurus, akhir sopir taxi nyerah dengan kemacetan diperempatan itu dan akupun harus turun di perempatan itu setelah membayar Rp. 15.000,- sesuai argo.

Dari sinilah cerita tahun baru di Surabaya aku mulai cerita, waktu itu baru pukul 11.30-an malam, aku gak berani lihat HP karena aku paling takut membuka HP dikeramaian. Aku menyusuri sepanjang jalan menuju kos dengan jalan kaki, waktu itu aku sempat punya niat untuk naik becak, tapi setelah aku ingat-ingat aku tidak punya uang kecil untuk bayar becak, kalau tidak salah uang ribuanku gak sampai 5 ribu rupiah, wah mana mau tukang becak aku bayar kurang dari 5 ribu dari sini, dan akhirnya aku putuskan untuk tetap menyusuri jalan dengan menahan rasa sakit kepala, tenggorokan, dan lemes.

Sampailah aku dipertigaan SMU 1 Surabaya, aku melihat ada banyak anak-anak mudah menggunakan sepeda motor dengan gas ditarik kencang-kencang dan koas ditepas sampai berdiri ditas motor, suaranya brisik bener deh waktu itu, aku hanya sempat melihat sekejap atraksi yang dilakukan anak-anak muda Surabaya itu karena kondisi kepala yang semakin pusing dan kaki semakin lemas saja.

Perjalanan aku lanjutkan menuju perempatan Toeng Mart, aku berfikir minimarket Toeng Mart buka dan aku bisa belanja untuk keperluan kos seperti Aqua botol, Vit C, susu, dan snack, tapi Toeng Mart tutup, pikirku dalam hati kayaknya aku memang harus jalan kaki sampai kos nih. Di depan Toeng Mart aku juga melihat kerjadian seperti yang aku lihat di depan SMU 1 Surabaya itu, beberapa gerombol anak muda menarik gas sepeda motor kencanang-kencang sambil membuka baju dan berjoget di jalan dengan diiringi suara sepeda motor yang kencang sekali, sementara orang yang lewat dipaksa berhenti dan mengikuti pesta naked mereka itu, pikirku di hati “wah kurang kerjaan bener ini…

Perjalanan mungkin masih setengah dari tujuanku untuk sampai dikosku, aku melihat gereja dijaga oleh aparat dari TNI-Polri, sementara banyak jemaat gereja yang harus duduk diluar untuk melakukan ibadah dengan penjagaan aparat.

Setelah itu barulah aku sampai di kos-ku dengan kondisi badan yang lemas, pusing, loyo, haus, tenggorokan sakit dan lain sebagainya deh. Menjelang tidur baru aku berfikir kenapa perayaan tahun baru di Surabaya kok kelihatan kasar sekali? Apa aku aja yang kurang peduli dengan tahun baru sehingga perayaan tahun baru ala anak-anak muda kota besar itu seperti itu. Bayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk perayaan tahun baru dengan gaya neked itu, berapa besar resiko kecelakaan yang dihadapi, berapa besar sumbangan polusi yang terjadi saat perayaan tahun baru 2008, dan masih banyak lagi. Timbul juga dipikiranku seandainya setiap orang Indonesia pada perayaan tahun baru menyumbangkan uang Rp. 1.000,- maka jika di kalikan jumlah penduduk total Indonesia maka akan mendapatkan sumbangan sebanyak +/- Rp. 2 M jika disumbangkan ke Palestina mungkin akan lebih bermanfaat. Tapi beda orang beda pendapat atau aku aja yang punya pendapat aneh…:D

Tar-tar suara petasan – kembang api, pertanda tahun baru sudah dimulai, ….em Met tahun baru 2008.