Tukang Becak Memberi Pelajaran Bagi Hidupku

Surabaya – Hari Rabu kemarin (2 Juli 2008) aku pulang ke Surabaya dari Madiun menggunakan KA Sancaka. Aku berangkat dari Madiun pukul 18.45 dan sampai di Stasiun Gubeng Surabaya pukul 22.15 malam, biasanya aku dari Stasiun Gubeng pulang ke kos dengan menggunakan taxi tapi malam itu aku ingin sekali naik becak, tujuanku naik becak cuma satu aku ingin menikmati jalanan Surabaya dimalam hari dengan menggunakan becak sekaligus memberi rejeki kepada tukang becak.

Turun dari kerata api aku berjalan menuju stasiun lama, disepanjang perjalanan keluar stasiun banyak sekali yang menawarkan jasa tukang ojek, taxi dan becak, tapi semuanya tidak aku gubris karena aku ingin sekali naik becak dengan tukang becak yang diam, tidak cerewet. Keluar dari stasiun aku melihat banyak sekali orang yang menawarkan jasa ojek, taxi dan becak lagi, tapi seperti biasa aku tetap keep silent dan akhirnya mataku tertuju pada tukang becak yang sedang duduk dibecaknya dan akupun menghampiri tukang becak itu.

“Mbecak pak!…..” Sapaku kepada tukang becak itu.
Teng Ahkmad Jais pinten?” Meneruskan sapaanku kepada tukang becak itu.
Sedoso ewu mas” Jawab tukang becak itu.
Akupun mengangguk dan bilang “Monggo…..” jawabku dengan singkat, karena menurutku harga 10.000 untuk jarak 3 km dari Stasiun Gubeng lumayan murah sekali.

Sepanjang perjalanan aku banyak bertanya agar suasana tidak menjadi sepi dan ini memang sudah menjadi kebiasaanku untuk selalu bertanya kepada tukang becak atau tukang taxi yang aku tumpangi, aku banyak tanya tentang asal, rumah di Surabaya di mana, anak berapa dan semuanya aku menggunakan bahasa jawa halus. Ternyata tukang becak itu berasal dari Madiun yang punya rumah di Prigen dan di Surabaya kos, beliau punya 4 anak laki-laki dan sudah mempunyai cucu, aku mendengar suara dengan bangga sekali ketika bapak tersebut bilang kalau sudah punya cucu, bahkan anaknya ada yang sudah bekerja di Batam.

Bapak tersebut juga cerita tentang kalau pulang ke Prigen dengan menggunakan kereta api komuter yang harganya Rp. 2.000,- akupun menjawab kalau aku belum pernah naik komuter meskipun aku sudah hampir 2 tahun ini tinggal di Surabaya.

Komentar bapak terhadapku yang aku ingat adalah bahasa jawaku halus sekali katanya dan akupun mengaku kalau aku berasal dari Jogja dalam percakapan pulang itu, walau menurutku bahasa jawaku masih jauh dari bahasa-bahasa halus yang digunakan di Jogja, bahkan di Jogja bahasa jawa halusku termasuk bahasa paling kasar tapi di Surabaya dikatakan kalau bahasa jawaku halus “…seneng banget he he he”.

Sampailah akhirnya aku dikos setelah menempuh perjalanan 20 menit, aku melihat nafas Bapak yang mengayuh becak ngos-ngosan. Aku merasakan ada hikmah yang dapat aku ambil dari perjalanan pulang naik becak dari Stasiun Gubeng ke kosku di Jl. Ahkmad Jais itu, yang jelas aku melihat begitu bahagia bapak tersebut menjadi tukang becak, walau profesi tukang becak tersebut mungkin bukan cita-citanya sejak kecil, dan sudah 10 tahun lamanya bapak tersebut menjadi tukang becak.

Aku melihat pelajaran yang dapat aku ambil adalah bahwa orang hidup harus menerima dan berusaha, aku melihat tukang becak tersebut menerima dan menikmati pekerjaan yang dijalankannya walau mungkin pekerjaan itu tidak diinginkan.

Akupun memberi tips tambahan kepada tukang becak tersebut yang semula cukup “sedoso ewu” aku tambah “gangsal ewu” menjadi “gangsal welas ewu“. Terima kasih kepada bapak tukang becak yang aku sendiri tidak sempat menanyakan siapa namanya.