Baban Silosanen Oh… Kondisimu

Surabaya – Tiga hari yang lalu aku dinas luar (DL) ke KPH Jember dan baru pulang tadi pagi (23 Agustus 2008), disana aku melakukan evaluasi tentang pelaksanaan GERHAN Pada Hutan Lindung yang dilaksanakan oleh KPH Jember utamanya di BKPH Silo RPH Baban Silosanen, sekitar 50 Km dari Jember kearah Banyuwangi, disana aku mengunjungi petak 18 yang luasnya sekitar +/- 3.000 Ha bersama Mas Yadi.

Pada Petak 18 Blok XVII yang letaknya paling puncak di Petak 18 tersebut aku melihat banyak sekali hamparan atau bahkan keseluruhan hutan di Petak 18 tersebut sudah ditanami tanaman pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat, berdasarkan informasi penggarap tersebut berasal dari Baban dan Curah Takir yang sebagian besar adalah suku Madura Tapal Kuda, yaitu suku Madura yang berada di wilayah kabupaten Probolinggo, Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi. Pada petak tersebut juga telah banyak berdiri bangunan rumah yang konon katanya adalah illegal, ada juga bangunan masjid yang kalau aku melihat masjid tersebut dibangung karena politik beberapa orang yang ingin menguasai lahan di Baban utamanya Petak 18.

Tanaman pertanian disana yang paling banyak ada Jagung dan tanaman Kopi, sementara untuk tanaman kehutanan memang sangat jarang sekali, sementara kondisi hutan sangat memperihatikan, kerusakan hutan disana telah terjadi sekitar 10 tahun terakhir.

Aku melihat erosi sangat besar terjadi kalaupun ada tindakan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat dengan membuat teras tapi tindakan konservasi tersebut tidak begitu sempurna dan benar sehingga dapat terlihat dari alur-alur kecil yang sudah mulai terbentuk dan humus tanah yang sangat tipis.

Aku sempat sampai di batas petak yang berbatasan dengan Taman Nasional Meru Betiri yang kondisinya juga sangat memprihatinkan. Aku melihat penggarap liar sampai juga ke lokasi taman nasional yang berfungsi juga sebagai hutan lindung.

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi pendudukan lahan oleh masyarakat disana? apa benar karena masyarakat disana susah diatur atau dikendalikan? PR yang besar tentunya untuk instansi terkait yang ada di Jember entah itu Pemda, TNI, Polri mapun Perum Perhutani.

Di Baban memang ada isu yang beredar bahwa masyarakat akan melakukan sertifikat terhadap hutan lindung yang selama ini ditanami oleh masyarakat yang seharusnya dikuasi oleh negara, meski isu ini telah dibantah oleh LSM Pendamping masyarakat disana, tapi jika berdiskusi dengan masyarakat disana apa yang menyebabkan mereka tetap tinggal disana adalah adanya keinginan untuk memiliki lahan tersebut dengan cara men-sertifikatkan, karena berdasarkan sejarah yang ada masyarakat Baban pernah berhasil melakukan sertifikat terhadap hutan lindung di Baban sekitar 1.200-an Ha yang dilaksanakan sekitar tahun 1980-an.

Mengerikan memang kondisi hutan lindung di Baban, harusnya kondisi hutan tersebut dapat dijadikan sebagai areal perlindungan daerah yang ada dibawahnya tapi jika kondisi seperti sekarang tetap dipertahankan maka akan sangat menyedihkan dan dapat menimbulkan bahaya longsor, tentunya sebelum semua musibah terjadi mari memperbaiki hutan di Baban yang sudah sangat rusak dan tinggalkan impian jangka pendek yang mungkin nanti akan berakibat buruk terhadap masyarakat di Baban Silosanen.

avatar
  Subscribe  
Notify of