Ya Allah Berilah Kekuatan Padaku dan Mbak Ida-ku

Surabaya – Tadi pagi sekitar jam 10.15 (16/12/2008) aku mendapat sms dari Mbak Ida (kakak-ku yang ke-2), betapa terkejutnya ketika aku mebacanya karena sms tersebut berisi tentang berita yang sedang menimpanya, yaitu kecelakaan Mbak Ida sekeluarga di Bangil sekitar jam 09.00. Aku baca sms itu berkali-kali seakan tidak percaya apa yang sedang menimpa Mbak Ida, aku hanya bisa beristifar dengan hati menangis.

Aku coba memberitahu Ani dan telpon Mbak Ida berkali-kali untuk menanyakan keadaannya, dan syukur alhamdulliah tidak ada yang luka serius, Mbak Ida hidungnya terbentur dan dari haril foto sinar x cuma mengalami pembekaan akibat benturan, Mas Tofik mengalami luka kecil di jari kelingking kakinya dan dadanya yang sakit akibat sabuk pengaman yang dikenakannya, Saskia bibirnya berdarah akibat benturan (entah membentur apa), Abang dan Adik kecil tidak mengalami luka apa-apa, serta Om Joko tidak terluka sama sekali. Ya aku bersyukur hanya kendaraan saja yang rusak sementara penumpangnya hanya luka seperti yang aku sebutkan.

Kecekaan itu terjadi karena Om Joko yang mengendarai mobil plat H tersebut ngantuk dan menabrak mobil L-300 yang sedang parkir tepat didepan RSUD Bangil Parusuan. Aku melihat kap depan mobil Kijang LGX itu ringsek tak berbentuk lagi, “ngeri aku melihatnya”, mungkin kecepatan mobil yang dikendarai oleh Om Joko sekitar 80-100 km/jam.

Selesai mengurus berkas BAP mobil di Pos Polisi Pier, akirnya ke-2 mobil (Kijang & L-300) dapat dibawa keluar dan diderek ke bengkel yang ada di Pasuruan (Wawan Motor) dengan biaya ya lumayan mahal. Sampai di bengkel aku bertanya kepada Mas Wawan (pemilik bengkel) tentang biaya yang dihabiskan untuk memperbaikannya, ya lumayan gede, untuk Kijang LGX habis sekitar 25 juta dan L-300 habis sekitar 11 juta.

Apa yang membuatku sedih atas kejadian ini, mengapa kejadian ini terjadi pada saudaraku, jawaban yang tepat adalah sudah garisnya, tapi betapa kesedihanku semakin mendalam karena kecelakaan itu 3 hari setelah aku melaksanakan pernikahan dan Mbak Ida menghadiri pernikahanku sekeluarga. Aku menatap wajah Mbak Ida di RSUD dengan berkaca-kaca, tapi aku tidak ingin menunjukkan kalau aku bersedih dan ingin sekali menangis. Aku peluk Adek anak ke-3nya dan aku cium, aku melihat hidung Mbak Ida bengkak dan berwarna merah.

Setelah menyelesaikan administrasi di RSUD Bangil aku bergegas ke Pos Polisi Lalu Lintas Pier, aku disana ketemu dengan Mas Tofik dan Om Joko yang sedang mengurus kendaraan, aku peluk Fikra anak ke-2 dan aku cium.

Bapak, Ibu, Ani, Mbak Ida dan ke-3 anaknya pulang menggunakan mobil sementara aku dan Mas Tofik menunggu bus patas, didalam bus hatiku sedih sekali, beberapa kali aku memejamkan mata agar aku tidak menangis sambil aku melihat keatas, “Ya Allah berilah aku dan keluargaku ketegaran dalam menghadapi cobaan ini”.

Dan aku berharap ini adalah kecelakaan terakhir dalam keluarga.