Perjalanan Pertamaku ke Madura

Sidoarjo – Sudah sekitar 2 tahun 8 bulan ini aku tinggal di Surabaya, kota yang banyak membuat perubahan dalam hidup dan karirku, serta kota yang banyak dijumpai suku dari pulau Madura. Setiap kali aku naik di lantai 8 kantorku dan aku menghadap ke arah timur pasti aku bisa melihat pulau Maduran dan bentangan jembatan Suramadu yang rencananya akan diremikan oleh presiden SBY tanggal 10 Juni 2009 besok.

Tapi apakah aku pernah ke Madura? jawabnya setelah 2 tahun 8 bulan aku tinggal di Surabaya baru tanggal 26-28 Mei 2009 kemarin aku bisa ke Madura. Madura memang tidak jauh dari apa yang aku bayangkan, masyarakatnya yang kental dengan Islam, sulit berhasa Indonesia maupun Jawa.

Setelah menyebrang dengan Ferry aku memang tidak bisa menikmati perjalanan malamku itu, aku hanya bisa melihat kanan-kiri jalan yang dipadati bangunan, setelah itupun aku terlelap tidur sampai di terminal Pamekasan dan baru sampai di Hotel Ramayana di Jalan Nias sekitar pukul 23 malam.

Setelah ceck in, perutku terasa lapar sekali, akupun mengajak Mas Edi dan Pak Fauzan untuk mencari makan terlebih dahulu, akupun menyusuri Jalan Nias yang ada di Pamekasan itu dan banyak sekali orang berjualan makanan, tentunya menu utamanya Sate (Ayam & Kambing), soto madura, dan penyetan, teman-teman di KPH Madura menyebutnya jalan itu dengan Jalan Badhokan (Indonesia: Jalan Makanan).

Keesokan harinya aku baru melakukan perjalan untuk melakukan evaluasi PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat), aku harus mengunjungi 2 LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) yang ada di RPH Dungkek, BKPH Madura Timur.

Aku juga sempat mengunjungi Pondok Pesantren Raudlatus Syabab yang ada di Desa Sergang Kecamatan Batu Putih Kabupaten Sumenep, disana aku dan Tim disambut oleh pengasuh pondok yang sekaligus ketua LMDH.

Perjalanan ke Madura sebenarnya sangat spesial bagiku, karena ini perjalan pertamaku, aku dan Tim juga diajak mampir ke Pantai Lombang yang ada di Kabupaten Sumenep.

avatar
  Subscribe  
Notify of