Film Ketika Cinta Bertasbih (KCB)

Sidoarjo – Kemarin (21/6/2009) akhirnya aku melihat juga film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) di 21 Cineplex Royal Plaza Surabaya, film yang diangkat dari novel terkenal dengan judul yang sama ini merupakan karya besar dari Habiburrahman El Shirazy. Konon fil ini sempat diputar di 9 negara, diantara yang aku ingat adalah negara Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Brunai, dan Jepang.

Film tersebut sebenarnya tidak terlalu bagus, seperti Ayat-Ayat Cinta yang pernah aku lihat film ini juga lebih bagus dari novelnya, mungkin karena mengambarkan suasana di novel itu sangat sulit ke dunia film, kenapa aku bisa bilang seperti ini karena aku sudah membaca novel Ketika Cinta Bertasbih itu tuntas baik buku 1 dan buku 2-nya dan beberapa karakter pemainnya kurang tepat, misal Azzam masih kaku sekali dalam akting dan Anisa kok kurang pas menurutku (kurang cantik deh), tapi setting film bagus sekali mungkin karena aku juga mengagumi negara Cairo, aku melihat tata kotanya bagus sekali meski aku belum pernah berkunjung kesana, aku melihat pantai di Alexandria tenang sekali seolah tanpa ombak dan angin seperti pantai-pantai di Indonesia, serta pantainya bersih dan kayaknya enak sekali buat nongkrong deh.

Tapi dari film itu ada yang menarik dan membuat aku merinding yaitu :

  1. Ketika aku melihat Azzam harus bekerja keras di Cairo Mesir dengan berjualan bakso, tempe dan memasak untuk dubes.
  2. Ketika si adik-adik di kampung menulis surat dan selalu tertulis pesan dari Ibu salam tetes air mata.
  3. Ketika si Azzam menasehati teman kos-nya “bahwa melamar gadis yang sudah dilamar oleh seorang pria itu hukumnya haram dan pernikahannyapun adalah haram”.

Memang ada latar belakang tersendiri ketika aku menulis kenapa 3 poin diatas yang membuat aku merinding, yang jelas ketiga poin diatas pernah aku alami meski untuk poin ke 3 aku yang menjadi korban.

Tapi secara keseluruhan yang aku lihat film tersebut cukup menghibur dan mengisi kekosongan di weekend kali ini.