Kenangan Lebaran Masa Kecilku di Desa Terpencil

Sidoarjo – Seingatku aku belum pernah berlebaran di Jawa ketika masih kanak-kanak, hampir setiap tahun sampai dengan aku lulus SMU aku berlebaran di Singkut IV, sebuah desa yang sepi, tanpa listrik dan tanpa jalan aspal, dengan mayoritas pekerjaan penduduknya adalah petani dan termasuk keluargaku, singkat kata desa terbelakang dech.

Waktu kecilku aku adalah anak yang periang, banyak teman dan tentunya juga banyak aturan dirumahku, sepulang sekolah harus tidur siang, setelah itu baru boleh main itupun hanya dilingkungan rumah karena menjelang jam 5 sore sudah ada panggilan untuk segera pulang, mandi sore dan belajar. Ketika aku SMP kelas 3 barulah aku mengenal olah raga bulu tangkis dan bola volly.

Kembali ke lebaran, biasanya lebaran adalah hal yang paling aku tunggu-tunggu, mungkin karena usiaku masih kanak-kanak sehingga tidak tahu apakah kondisi keluarga dalam masa sulit apa tidak, yang jelas setiap lebaran aku selalu dibelikan baju baru, celana baru dan sandal baru yang aku gunakan buat ngelencer/main bersama teman-teman untuk berkunjung ketempat saudara dan keliling desa, misal hari ini ke Blok D, besok ke Blok C dan besoknya lagi ke Blok B, kalau ke Blok A aku jarang sekali karena kebanyakan teman-teman sekolahku berasal dari Blok D, C, dan B.

Banyak teman-teman waktu itu yang selalu bersama-sama mengunjungi rumah per rumah di 3 blok tersebut, tujuannya apa sih cuma ingin dapat sangu (he he he :D) tapi tidak apa-apa karena pada saat itu uang Rp. 100,- sangat berharga (tahun 1990-an), seingatku uang jajanku waktu SD perhari hanya Rp. 50,- s/d 100,- itupun jarang aku gunakan karena rumahku dekat sekali dengan SD jadi kalau lapar cukup lari ke rumah plus di SD ku waktu itu belum banyak jualan makanan, seingatku yang jualan hanya Bu Kodim dan Bu Oman serta kadang-kadang ada Es Pak Doel.

Selama lebaran biasanya aku cuma dapat Rp. 5.000,- s/d 10.000-an, itupun sudah termasuk banyak dan prosi terbanyak yang memberi biasanya adalah orang-orang yang dekat dengan keluargaku seperti Bude/Pakde dan Bulek/Paklek. Uang hasil lebaran biasanya aku tabung dicelengan dari tanah liat yang dibuat seperti kendi, biasanya uang tersebut aku gunakan untuk membeli keperluan sekolah.

Hal yang mungkin sulit untuk aku lupakan adalah sebagian uang hasil pemberian itu biasanya aku gunakan untuk membeli rokok bersama teman-teman (iuran red), kemudian rokok tersebut dirokok bersama-sama sambil jalan-jalan tapi jangan sampai ketemu sama guru atau saudara, bisa gawat di sekolah atau dirumah pasti akan dimarahi, aku lupa dulu merek rokoknya apa ya? yang jelas satu bungkus itu harganya hanya Rp. 500,-an warnanya pembungkusnya adalah biru tua.

Lebaran semasa kanak-kanak memang tidak akan pernah habis senangnya, dan seakan tidak pernah ada kesedihan sedikitpun. Hem … kenangan indah itu sulit untuk aku lupakan dan tak terasa itu terjadi 15-20 tahun yang lalu.

avatar
2 Comment threads
2 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Sofiudin NurmansyahluqmankumaraSofiudin Nurmansyahluqmankumara Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest
Notify of
luqmankumara
Guest
luqmankumara

wget idulfitri.deb | sudo dpkg -i idulfitri.deb | sudo aptitude update | sudo aptitude safe-upgrade | sudo /etc/init.d/minal-aidzin-wal-faidzin start

permohonan maaf diterima, silakan tunggu 1×24 jam untuk pengambilan maaf

luqmankumara
Guest
luqmankumara

wget idulfitri.deb | sudo dpkg -i idulfitri.deb | sudo aptitude update | sudo aptitude safe-upgrade | sudo /etc/init.d/minal-aidzin-wal-faidzin startpermohonan maaf diterima, silakan tunggu 1×24 jam untuk pengambilan maaf