Perencekan, Tidak Benar Tapi Mau Apa?

Temayang – Beberapa waktu yang lalu ketika perjalanan menuju Temayang dari Nganjuk aku melihat sepeda motor sedang membawa rencekan (kayu kering/basah di hutan yang digunakan kayu bakar oleh masyarat) dan sempat aku abadikan dengan kamera HP, dan disepanjang jalur Bojonegoro – Nganjuk akan sangat banyak dijumpai kendaraan baik sepeda motor maupun sepada onthel memuat kayu rencekan tersebut.

Dari hasil cerita yang aku dengar memang ini sudah merupakan budaya dari masyarakat sekitar, aku tidak bisa menyebutkan apakah mereka masyarakat desa sekitar hutan atau tidak karena aku belum memiliki data tentang masyarakat mana saja yang mengambil rencek tersebut. Untuk Bojonegoro kayu-kayu rencekan tersebut dibawa ke Bojonegoro dan juta Tuban, aku juga kurang paham peruntukannya.

perencekan

Kalau dihitung setiap harinya ratusan sepeda yang membawa rencek tersebut, padahal pengambilan rencek sebenarnya dilarang karena dapat merusak hutan, tapi berhubung kegiatan tesebut sudah terjadi secara turun-temurun maka hal ini sangat sulit dilakukan pemberantasan. Informasi yang saya dapat bahwa renek satu sepeda motor itu hanya dihargai Rp. 25.000 – 30.000 saja, bisa dibayangkan berapa uang yang akan didapat jika dalam sehari bisa sampai ratusan sepeda/sepeda motor yang mencari rencek.

Sosialisasi terhadap masyarakat dan kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan hutan memang masih sangat rendah, hal ini terlihat bahwa mereka masih banyak melakukan pelanggaran dalam kawasan hutan seperti perencekan, pengembalaan, pembibrikan, atau bahkan masih ada yang melakukan pencurian pohon, perburuan hewan-hewan yang dilindungi. Padahal mereka sebenarnya memahami bahwa kegiatan yang mereka lakukan adalah salah, akan tetapi mereka banyak ‘nyaminnya’ dibandingkan berbuat benarnya.

Kerja keras buatku dan jajaran Perhutani tentunya, PR lama yang terlambat mengerjakan.