My Wife is Perfect

Semenjak berakhirnya hubunganku dengan pacarku di akhir tahun 2007 aku mencoba untuk memperbaiki diri dan hati, sebuah hubungan yang telah lama aku bangun tapi aku harus menelan pil pahit karena aku diduakan. Sakit waktu itu, mungkin sangat sulit aku ceritakan karena memang sulit untuk bisa dimengerti atau dipahami mengapa sampai aku bisa diduakan, tapi itulah kehidupan nyata didunia ini, bahwa apa yang diinginkan sangat mungkin bisa berbeda dengan apa yang terjadi.

Picture 216Sore hari disuatu hari dibulan April 2008 aku disms oleh adik kelasku, namanya Ervina (FKT 2001), dia menanyakan kabarku meskipun aku dan Ervina sama-sama tinggal di Surabaya tapi aku belum pernah bertemu, hanya sesekali kalau aku pulang ke Jogja aku bertemu dengan Ervina yang secara kebetulan suami Ervina adalah aktivis di Infront bernama Luluk.

Setelah aku menjawab sms-nya Ervina langsung menanyakan apakah aku sekarang sedang jomblo, status yang pada saat itu aku tutup-tutupi, tapi setelah beberapa kali sms aku baru bercerita kalau aku memang jomblo. Entah ada apa sebelumnya tiba-tiba Ervina sms aku lagi dan menawari anak bos dimana Ervina bekerja. Akupun semula hanya acuh, jujur waktu itu aku masih goyah dan malas membangun hubungan yang serius, kalau sepukul dua pukul ya bisalah dan pada saat itu sebenarnya aku juga sedang dekat dengan seseorang yang aku kenal ketika aku pulang dari Jogja ke Surabaya, tapi sayang kedekatanku tidak seindah yang aku banyangkan entah mengapa tiba-tiba aku dan dia saling menjauh tanpa sebab, yah mungkin memang tidak berjodoh.

Kembali lagi ke Ervina, setelah aku dikasih tahu informasi tentang anak bosnya itu akupun merasa ragu, ragu pada kenyakinan hatiku sendiri apa sebenarnya aku bisa menjalin hubungan lagi dengan seorang wanita saat itu, tapi aku selalu menepis keraguanku sendiri dengan menata hati dan jiwaku agar aku bisa kembali seperti beberapa tahun lalu sebelum aku ke Surabaya.

Gambar(11) Ervina hanya sedikit cerita kepadaku tentang anak si bos (Ervina juga belum tahu namanya) yang kerjanya di Rumah Sakit PTPN di Jember, anaknya pakai jilbab dan diakhir permbicaraan Ervina sempat bilang kalau si anak bos ini pasti tipe-ku banget, “tahu dari mana dia?”.

Pada bulan Juni 2008 aku mencoba menghubungi melalui sms untuk berkenalan dengan anak si bos itu, dari perkenalan itu aku mengetahui kalau namanya Ranti Martha Apriani (Ani). Dari hasil sms dan telpon akhirnya ada kesepakatan untuk bertemu, waktu itu aku sangat ragu sekali tapi entah mengapa kok bibirku ini tiba-tiba mengajak bertemu dan pertemuan itu terjadi dirumahnya sekitar jam 7 malam.

Saat aku berangkat dari kos yang ada di Jl. Ahmad Jais Surabaya menuju ke rumah Ani hatiku bercampur aduk rasanya, rasa ragu, takut, malu, tidak pede semuanya menjadi satu, mungkin rasanya seperti jas jus yang diberi sari air brutowali, pahit dan ragu tapi apa mau dikata aku harus berani bertanggung jawab atas apa yang sudah aku ucapkan bahwa malam ini aku berjanji untuk main.

ani-3 002Setelah pertemuan akupun merasa biasa saja, tidak ada yang ideal dan tidak ada yang spesial, mungkin hatiku masih teringat masa laluku yang menyakitkan, kembali aku mencoba untuk menata hati agar kepingan-kepingan itu kembali tersusun, meski ketika menyusunnya lebih sulit dari pada menyusun puzzle gambar bencana tsunami di Aceh tahun 2004 silam, tapi aku harus berusaha, tidak ada yang tahu waktu itu meski aku sering curhat ke Ika tentang semua masalah-masalahku.

Sepanjang malam aku selalu berfikir bagaimana agar hatiku ini bisa menerima wanita lain sebagai belajan jiwaku, itu aku pikirkan hampir setiap waktu disela-sela kesibukanku sebagai KSS Pemeliharaan Hutan di Kantor Unit.

Sms & telpon masih berjalan bersama Ani, mungkin hampir setiap waktu aku selalu ber-sms-an. Sampai akhirnya orang tuaku bertanya tentang calon istriku pada lebaran tahun 2008. Akupun tidak bisa menjawab karena memang aku tidak memiliki pacar pada saat itu, akupun bertanya kepada orang tuaku syarat apa yang harus dipenuhi oleh seorang wanita jika menjadi istriku, orang tuakupun menyebutkan (1) Muslim dan berjilbab, (2) Berpendidikan minimal D3, (3) Bisa menerima aku yang berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Akupun menceritakan perihal perkenalanku dengan Ani, dan akupun bercerita kalau Ani adalah seorang muslim berjilbab dan berpendidikan serta sekarang bekerja di Rumah Sakit PTPN Jember. Pada saat itu orang tuaku menanyakan apakah Ani bisa diajak ke Jogja, aku mulai ragu mana mungkin Ani mau aku aja ke Jogja karena harus menginap di Jogja. Setelah aku kembali ke Surabaya aku pun bercerita kepada Ani perihal keinginan orang tuaku dan alhamdulillah Ani bersedia untuk ke Jogja dan tidur dirumah yang sangat sederhana itu.

Sepulang dari Jogja, aku mendapat telpon dari orang tuaku bahwa mereka setuju jika aku menikah dengan Ani, akupun mulai ragu, entah seperti apa rasa didalam dadaku, antara senang dan ragu. Aku berusaha mencari jawaban sebuah pernyataan yang membingungkan “dasar apa aku menikahi seorang wanita?” maklum pada saat itu aku belum bercerita kepada Ani tentang restu kedua orang tuaku itu.

IMG_0048 Setelah aku mendapatkan jawaban yang memuaskan dari seorang teman bernama Mada (padahal Mada sendiri belum menikah) tentang dasar menikahi seorang wanita, barulah aku bercerita kepada Ani tentang keinginan orang tuaku agar aku menikah dengannya, aku gak tahu apa yang Ani rasakan setelah aku mengungkapkan itu, tapi ada beberapa persyaratan yang aku ajukan kepada Ani sebelum menjawab keinginan orang tuaku dan akhirnya Ani menyetujui persyaratan yang aku ajukan dan selanjutnya kamipun berproses sampai akhirnya pada tanggal 12 Desember 2008 kami berdua mengikat janji untuk menjadi pasangan yang berbahagia sampai akhir jaman.

11102009172 Baru 1 minggu setelah kami menikah, rejeki datang dari Allah dengan diterimanya Ani menjadi PNS Pemkot Surabaya dan penempatan kerjanya di RSUD dr. Soewandhi Surabaya, kebahagiaan kami tidak hanya sampai disitu perjalanan setiap waktu kami lakukan dengan penuh kebahagiaan dan akhirnya pada tanggal 9 Oktober 2009 telah lahir anak laki-laki kami yang pertama bernama Narayan Naufal Nabigh (Naufal).

Terima kasih Allah atas semua rejeki yang engkau berikan semoga aku bisa menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab sampai akhir hanyat dan terima kasih kepada Ani atas kesabarannya menjadi pendamping hidupku, love you and Naufal now and forever dan aku menyadari bawah my wife is perfect.