Mengapa Tawuran Antar Pelajar Bisa Terjadi

Bojonegoro – Membahas tawuran adalah hal paling menarik bagiku, karena ketika dulu aku kuliah di Fakultas Kehutanan UGM hampir setiap ada acara penerimaan mahasiswa baru, tanding olah raga antara tahun 1998 tahun pertama kuliah sampai tahun 2003 tawuran dengan fakultas teknik, geografi, fisipol sudah biasa, hanya saja tawuran pada saat itu menggunakan tangan kosong, paling-paling hanya melempar dengan aqua gelas saja.

Tapi akhir-akhir ini aku sudah jarang mendengar ada tawuran karena memang fakultas jago tawuran sudah tidak lagi suka tawuran kenapa? Ada beberapa alasan: semenjak tahun 2001 di Fak Kehutanan sudah banyak menerima mahasiswi, bahkan jumlah terakhir sudah mencapai 40%an, dan apa hasilnya? Tawuran sudah menurun. Kayaknya pihak dekanat juga sudah mulai ketat, mungkin hukuman sudah mulai dijalankan dengan baik, denger-denger Sylvagama aja katanya dibekukan oleh dekanat.

Mendengarkan banyak tawuran akhir-akhir ini memang menyedihkan bahkan sampai ada korban jiwa, kenapa mereka sepertinya brutal sekali, apalagi mereka yang terlibat tawuran masih muda belia, kasihan sekali harusnya waktu mereka digunakan sebaik-baiknya untuk belajar.

Apakah memang ada yang salah dengan sistem kurikulum kita ya? Mendiknas mengatakan sekarang sedang akan dilakukan pembahasan tentang sistem pendidikan, cepetan pak semoga aja hasilnya bukan hanya laporan kejar tanyang, tapi aplikatif dan efektif untuk menghapus kekerasan pada pelajar.