Mengapa Saya Mempercayai Hasil Quick Count Pemilu 2019?

Solo – Ini adalah salah satu tulisan di Group FB Kagama, saya ambil dan memang merasa bagus tulisannya, ada banyak beredar di wall FB atau Twitter yang menurutku sangat berlebihan meanggapi hasil Quick Count hanya kerana Quick Count memenangkan paslon 01 semuanya pada saat disiarkan di TV tanggal 17 April 2019 kemarin.

Bahkan ada yang sampai komentar ekstrim yang mungkin tidak bisa saya tuliskan disini. Saya hampir setiap waktu mengakses web KPU, kawalpemilu.org dan ayojagatps.org tapi untuk web KPU dan kawalpemilu.org hampir sama dengan hasil Quick Count. Saya secara pribadi dengan keilmuan dan nalar yang saya punyai saya mempercayai hasil Quick Count tersebut, karena secara keilmuan dapat dipertangjawabkan. Kalau ingin pastinya besok tanggal 22 Mei 2019 dilihat hasilnya setelah KPU mengumumkan hasilnya.

OK ini adalah penjelasannya dan maaf saya lupa siapa yang menulis di group FB Kagama ini sehingga tidak bisa menuliskan nama penulisnya.

Untuk kubu 02 saya jelaskan ya. Sedikit saja..

  1. Sejak diperkenalkan di tahun 2004 di Indonesia, Quick Count (QC) itu TIDAK PERNAH MELESET dari Real Count (RC) dalam memberikan proporsi suara ke paslon-paslon pilpres atau pilkada. Ini satu hal yg harus dipegang;
  2. Adapun apa yg terjadi dg pilkada Jakarta kemarin di putaran ke-2 yg memenangkan Pak Anies dan Pak Sandi, QC dari 4 lembaga survei juga memenangkan Pak Anies dan Pak Sandi;
  3. Pada pilkada Jakarta itu yang berbeda dengan hasil QC dan Real Count (RC) adalah hasil survei elektabilitas sebelum pencoblosan. Jadi tolong dibedakan antara survei elektabilitas yg sifatnya perkiraan dengan margin of error biasanya besar di atas plus minus 2% dengan perhitungan suara setelah pencoblosan spt Exit Poll (EP), QC, dan RC. Mengapa survei elektabilitas bisa beda dengan EP, QC, dan RC? Karena pemilih bisa masih merubah pilihannya sesuai issue yg berkembang, misal salah satu paslon didera musibah fitnah yg masuk di akal calon pemilih yg akan membuat pemilihnya beralih suara. Atau usaha-usaha politik haram lainnya jika paslon mu memang kartu mati dan jadi yg downgrade sifatnya, maupun politik yg halal.
  4. Jika Anda merasa menang pilpres, maka tentulah punya basis data yg myakinkan Anda. Basis data tersebut tidak bisa berupa data kualitas, misal Anda merasa saat kampanye di GBK lebih ramai, atau politik identitas dengan ibadah bersama Anda anggap lebih berhasil dibanding kubu yang ibadahanya tidak pernah mau dijadikan pelengkap politik saja sehingga niatnya udah lain. Ini tidak bisa dijadikan Anda merasa menang karena kita punya silent majority juga, yang akan mencoblos tanpa mau ikut euforia kampanye.
  5. Jadi, basis data yang bisa Anda pakai adalah data kuantitatif, yaitu data EP atau QC.
  6. Selain EP dan QC apa ada cara lain untuk merasa menang? Tidak ada. Masalahnya QC jauh lebih valid dibanding EP. Jadi, sia-sia jika mau bandingkan data pengakuan coblos apa pada EP VERSUS data faktual rekap pencoblosan dengan saksi-saksi di QC. Ini belum lagi jika dibahasa sampel yg dipakai dalam QC, apakah sudah mewakili TPS dengan suara-suara besar atau tidak.
  7. Jadi, merasa menang itu jika QC nya menang. Dilihat lagi, dari semua lembaga survei kredibel dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepsi) apakah mayoritas lembaga memberikan hasil yang sama atau tidak.
  8. Jadi, berhentilah merasa menang dari pandangan jumlah peserta kampanye di kampung mu, di GBK, atau di Lubang Hitam sekalipun. Karena, semuanya harus pake data kuantitas QC agar kege-eran mu tidak sia-sia.
  9. Selanjutnya, tetap berbesar hati jika kalah dan dukung presiden sah setelah pengumuman oleh KPU, atau Anda tetap jadi pecundang lima tahun lagi, jadi genap 10 tahun. Islam mengajarkan berbesar hati, bukan memberontak, kecuali kamu seorang khawarij yang akan jadi Anjing neraka.

avatar
  Subscribe  
Notify of